jump to navigation

Dan Rejeki Pun Bencanda Maret 30, 2013

Posted by azkiyaul in Uncategorized.
trackback

Hari ini bangun tidur agak kesiangan, padahal biasanya sangat kesiangan. Tiba-tiba ingin sarapan yang seger-seger. Sempet ingin bakso, tapi masa ada bakso pagi-pagi. Akhirnya pilihan jatuh ke soto surabaya, dengan modal motor pinjeman maka berangkatlah menuju warung soto yang terkenal dengan tempatnya yang semrawut tapi rasa sotonya nendang banget (korban iklan :))

Kebetulan warung lagi sepi, sambil makan ku sempatkan untuk ngobrol sana sini sama penjualnya yang masih muda, badannya penuh tato seperti preman di tipi-tipi , tapi ngomongnya halus seperti abdi keraton. Kayaknya hanya di Indonesia kita menemukan manusia macam itu, unik dan membingungkan. 

Di sela-sela makan, ku bertanya “mas….kok tumben sepi, biasane rame nganti bakule gak ketok blas” (mas kok tumben sepi…sampai penjualnya tidak kelihatan sama sekali). Sambil mencuci piring dia menjawab “rejeki itu ga bisa di prediksi, gak bisa di pastikan”. Secara spontan ku berkata “wah…mas kata-katane seperti Habib ya, mengandung makna yang sangat dalam” sambil ku tertawa. “Habib ndasmu kuwi…..aku iso ngomong ngene amargo nduwe pengalaman pribadi selama seminggu terakhir” (aku bisa ngomong kaya gini soalnya ada pengalaman pribadi selama seminggu terakhir). kata mas penjual soto.

Akhirnya Mas penjual soto bercerita bahwa dirinya seminggu terakhir ini mengalami hal yang berbeda dari biasanya. Sekedar informasi Warung soto ini buka dari jam 6 pagi sampai sekitar jam 2 siang. Peristiwa yang tak lazim itu berawal ketika hari itu dia buka warung seperti biasanya sekitar jam 6, begitu selesai menata segala sesuatunya pembeli datang bak banjir bandang, sangat ramai, hanya dalam waktu 2 jam soto yang dia jual hampir habis tinggal beberapa porsi bahkan katanya dibawah 5 porsi. Setelah warung sepi, dia ditelfon sama istrinya dan ditanya akan pulang jam berapa karena ada sesuatu hal, dengan percaya diri dia menjawab akan pulang sebentar lagi, menunggu soto habis yang tinggal beberapa porsi. Detik berganti menit, menit berganti jam, dia masih menunggu warungnya. Ternyata sampai tengah hari tak satupun pembeli yang mampir ke warungnya, tetapi dia masih setia menunggu pembeli. Akhirnya sampai lewat tengah hari sotonya masih tak laku juga, dia memutuskan untuk pulang saja.

Keesokan harinya dia kembali berjualan, setelah selesai menyiapkan warungnya dia duduk sambil menonton tivi, keasyikan menonton tivi ternyata dia baru sadar bahwa hari sudah siang dan yang lebih mengagetkan bahwa sotonya sama sekali belum laku. Trauma akan peristiwa kemarin kembali menghantui pikirannya, dia mulai kebingungan dan sedikit panik. Hari semakin siang dan sudah melewati tengah hari, dia sudah pasrah dan memutuskan untuk pulang tanpa hasil. Saat bersiap-siap pulang tiba-tiba dia mendengar suara ledakan yang sangat keras, dia pun langsung keluar warung untuk melihat apa yang telah terjadi, ternyata ledakan tadi berasal dari ban sebuah bus yang meletus. Dia pun kembali masuk ke warungnya dan kembali bersiap pulang, saat sedang bersiap pulang ada seorang kakek memasuki warungnya dan bertanya “mas..sotonya masih?”. Dalam hati dia berpikir jika pembeli hanya satu maka percuma dilayani, tetapi sebelum dia menjawab ternyata kakek itu berkata lagi “kalau sotonya masih ada, itu temen-temen saya mau makan disini”. Langsung saja dia bilang jika sotonya masih  banyak. Dalam waktu singkat sotonya ludes terjual karena ternyata semua penumpang bus tersebut ikut membelinya.

Hari berikutnya dia berjualan agak kesiangan karena harus membawa anaknya ke dokter, dan peristiwa yang menurutnya agak aneh pun terjadi, kali ini sebelum sampai diwarung sotonya telah diborong oleh seorang ibu-ibu yang katanya untuk acara pengajian. Dia pun pulang lebih awal dan bisa menjaga anaknya yang lagi sakit.

Saat hari libur, dia kembali berjualan tetapi kali ini membawa dua kali lebih banyak dari hari biasa, dia berpikir bahwa pasti akan ada kejadian lagi, apalagi hari ini hari libur plus ada acara konser di dekat warungnya. Sambil menunggu pelanggan dia bernyanyi-nyanyi riang, nonton tivi, bahkan sambil nongkrong. Hari sudah siang tapi sotonya baru laku beberapa porsi, dalam hati dia masih sangat tenang karena yakin peristiwa kemarin akan kembali terjadi. Setelah menanti seharian bahkan sampai jam 3 sore sotonya hanya laku beberapa porsi, dia masih bersikeras untuk tetap ditempat, padahal hari sudah semakin sore bahkan mendekati adzan maghrib. Dia menyerah dan memutuskan untuk pulang saja.

Kejadian demi kejadian pun terjadi, saat dia yakin akan laris maka hasilnya akan jeblok, begitu pula sebaliknya. Dia pun berpikir ternyata laris ataupun sepi hanya Tuhan yang bisa memastikan, dan sejak saat itu dia mempunyai prinsip bahwa jika sedang berjualan maka berjualanlah dengan baik, urusan laku atau tidak laku itu bukan urusan manusia lagi.

Tidak terasa hampir 2 jam aku ada diwarung itu, mendapat sebuah ilmu yang sangat sederhana tapi bermakna, didapat bukan dari orang yang bergelar sarjana, master atau professor. Tetapi dari seorang penjual soto bertampang preman tapi berakhlak mulia.

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: